Era Soekamto: Sukses Sendiri Tak Ada Artinya

Bagi desainer berpengalaman 14 tahun di bisnis fashion, Era Soekamto, sukses tak ada artinya jika hanya dinikmati sendiri tanpa berbagi, atau memberdayakan orang lain. Ia pun membagi waktunya, 20 persen untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi. Niat berbagi, yang pada akhirnya membukakan jalan menuju sukses sebagai pelaku bisnis di industri fashion.

Era menyimpan cita-citanya sejak kecil untuk menjadi desainer busana, melalui dreambook yang dibuatnya sendiri. Di buku mimpi itulah, Era mengasah otak kanannya untuk menguasai dunia fashion. Mulai mengenal warna hingga memasang foto tokoh fashion yang menjadi pemicu semangatnya, di buku yang membuatnya terus fokus meraih mimpi, hingga akhirnya kini nama Era Soekamto kian akrab di dunia mode.

“Sukses sendiri tak ada artinya. Saya gunakan 20 persen waktu saya untuk sosial dan organisasi,” jelas Era saat berbagi pengalaman dengan organisasi entrepreneur yang menaunginya, Indonesia Young Entrepreneurs (IYE) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tak ingin sukses sendiri
Setelah berhasil mewujudkan mimpinya sendiri menjadi desainer, Era tak berpuas diri. Ia tak ingin sukses sendiri. Era berkeinginan memberdayakan UKM dan anak yatim, dengan kebiasaannya sebagai desainer dan entrepreneur. Ia juga mengutarakan mimpinya, mencoba idealisme baru menjalankan program dari perempuan untuk perempuan, memberdayakan 500 perempuan di daerah yang potensial dalam mengolah kain tradisional agar lebih bisa terangkat di dunia internasional.

Bersama Cita Tenun Indonesia, Era juga ingin menelusuri tenun di berbagai daerah Indonesia dan melestarikannya. Gerakan Indonesia Menginspirasi adalah juga salah satu gerakan sosial yang sedang digarapnya bersama sejumlah rekan, untuk menjelajah pelosok negeri, berbagi pengalaman dan mengajak membuat perubahan kecil kepada sebanyak mungkin orang agar bisa lebih berdaya atas dirinya.

Era pun terpilih sebagai pembicara oleh IYE untuk memberikan inspirasi juga motivasi bisnis bagi para entrepreneur muda atau pemula. Kesuksesannya dalam bisnis fashion, juga dipengaruhi keterampilan bergaul dan berbaur, dengan berbagai komunitas dan organisasi. Jejaring menjadi penting. Kemauan untuk meluangkan waktu di kegiatan nonprofit, justru pada akhirnya memberikan hasil lebih dari yang pernah terbayangkan.

“Untuk bisa mencapai sukses harus bergaul di mana saja,” katanya saat berbincang bersama Kompas Female.

Inilah sebabnya, Era menjalani bisnis dengan enam dasar yang kuat, salah satunya empati. Enam elemen pendekatan bisnis Era Soekamto di antaranya Desain (bukan sekadar fungsi), Strong (bukan sekadar argumen), Simphony (bukan sekadar fokus), Empathy (bukan sekadar logis), Play (bukan sekadar keseriusan), dan Meaning (bukan sekadar akumulasi).

Otak kanan adalah masa depan
Era memang sudah memilih profesi yang diminatinya sejak kecil. Dreambook Era menjadi pemandunya. Sosok ternama di industri mode yang pernah ditempelnya di buku mimpi, berwujud nyata. Nama besar seperti Ghea Panggabean, Itang Yunaz, Samuel Wattimena ada di dalam buku mimpi Era, yang kini begitu dengan dengan dunianya.

Perempuan kelahiran Mataram, Lombok 3 Mei 1976 ini menjalani profesi dengan segenap hatinya. Kerja kerasnya mewujudkan mimpi, dengan mengikuti les yang berhubungan dengan cita-citanya sebagai desainer berbuah manis. Perempuan yang lahir dari keluarga multikultur ini (Ayah asal Yogyakarta, Ibu asal Tegal, dan lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat), berhasil mempopulerkan tiga label fashion ciptaannya. Dimulai dengan label pertama, Urban Crew, lalu label Era Soekamto yang fokus pada kain tradisional (diluncurkan di pekan mode Jakarta Fashion Week 2012), serta Urban Garmindo yang fokus pada pembuatan seragam korporasi.

Era juga meraih sejumlah penghargaan fashion, dan dipercaya memegang sejumlah jabatan di berbagai organisasi fashion maupun entrepreneur. Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) menampuknya sebagai Public Relations, sementara IYE selalu melibatkannya menjadi pembicara di berbagai kegiatan edukatif. Mengenai keterlibatannya di IPMI, Era berkomentar, “Tak mudah masuk IPMI, banyak kriteria yang harus dipenuhi seperti memenangi lomba, diakui media dan customer, jumlah karyawan juga menjadi pertimbangan. Saya harus menggelar show tunggal tiga kali dalam satu tahun untuk bisa masuk IPMI,” jelasnya.

Baginya, bisnis fashion sebagai bagian dari industri kreatif yang mengandalkan otak kanan adalah masa depan. Masa depan yang akan diraihnya dengan kesuksesan dengan menyeimbangkan otak kiri, melalui ilmu entrepreneurship. Keseimbangan otak kanan (fashion) dan otak kiri (entrepreneurship) inilah yang menjadi fokus Era meraih mimpi-mimpi berikutnya. Mimpi yang akan diraihnya dengan membagi porsi waktunya, 80 persen bergelut dengan berbagai hal dalam hidupnya, 20 persen fokus untuk sosial, dan sebenarnya keduanya bisa saling terkait dan membangun satu sama lain.

“Kalau kita sibuk bekerja untuk orang lain, Tuhan akan sibuk bekerja untuk kita,” ucapnya.

Benar saja, bisnis fashion yang dijalankan Era dengan menggabungkan misi sosial dan fokus melestarikan budaya, nyatanya mendatangkan pencapaian besar bagi kariernya. Pada 2012, Era dipercaya menjalankan proyek fashion yang teramat bermakna baginya sebagai pewaris budaya. “Saya belum bisa mengutarakannya secara detil, masih berproses. Yang pasti ini proyek besar dan membanggakan,” tandasnya.

sumber: kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..