Inilah Srikandi Lembaga Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan : Ilya Avianti

Inilah Srikandi Lembaga Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan : Ilya Avianti. Sore itu, langit sedikit mendung. Sejumlah pegawai masih tampak berlalu-lalang di lantai 8 gedung Menara Bidakara I. Namun, sosok yang kami tunggu ternyata masih harus mengikuti rapat. Maklum saja, wanita yang pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Keuangan era Jusuf Anwar tersebut, memang tengah sibuk-sibuknya.

Ilya Avianti, nama wanita itu. Kini, menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), OJK mendapat label sebagai lembaga “super “ (super body). Disebut “super”, karena wewenang OJK cukup besar, meliputi pengaturan, pengawasan, pemeriksaan dan penyidikan di industri perbankan, pasar modal dan lembaga keuangan non-bank.

Ilya adalah satu dari tiga wanita yang berhasil lolos seleksi ketat menjadi anggota Dewan Komisioner OJK. Pengalamannya sebagai Auditor Utama Keuangan Negara VII Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan sederet prestasi di bidang akuntansi tentunya menjadi modal berharga bagi wanita kelahiran 12 Juli 1959 ini, untuk berkiprah dalam lembaga yang diamanatkan Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2012 tersebut.

Usai rapat, Ilya pun menerima VIVAlife di ruang kerjanya, Selasa, 8 Januari 2013. Tak terlihat wajah letih meski jam sudah menunjukkan pukul 6 kurang. Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran (Unpad) ini justru menyambut dengan penuh semangat dan senyum hangat. Simak wawancara Ilya dengan VIVAlife berikut ini.

OJK resmi efektif bekerja per 1 Januari 2013. Sejauh ini apa saja yang sudah dilakukan Dewan Komisioner OJK?
Banyak sekali yang sudah dilakukan. Yang paling penting adalah making rules. Jadi sesuai amanat UU, kami harus menyiapkan struktur organisasi. Kemudian deskripsi perkerjaan dan menyusun anggaran tahun 2013. Kami menyiapkan SDM danpengalihan aset dari Kementerian Keuangan ke OJK.

Sekarang sudah banyak memproduksi peraturan-peraturan OJK. PDK atau Peraturan Dewan Komisioner, misalnya, mengikat ke dalamnya. Kalau Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) mengikat ke luar. Barangkali nggak terlalu banyak POJK karena kami kan masih dalam transisi sampai 31 Desember.

Sebelumnya Anda bekerja di BPK. Apa yang membuat akhirnya Anda masuk jadi anggota Dewan Komisioner OJK?
Jadi kalau lihat perjalanan hidup ini, dari segi akademisi, sekolah sudah mentok, saya sudah mencapai Guru Besar. Jadi capaian akademik tertinggi sudah. Kemudian secara profesi, saya sudah eselon satu di BPK. Saya ingin di akhir pengabdian itu berkontribusi pada lembaga baru. Ini kan lembaga baru. Setiap negara kan cuma ada satu OJK itu dan ingin ke sini. Berkontribusi ikut membentuk organisasi baru.

***

(Wanita yang juga anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) ini berhasil lolos seleksi menjadi anggota Dewan Komisioner OJK dari 300 orang yang dijaring oleh panitia seleksi (Pansel). Dengan antusias, Ilya pun menceritakan soal tes yang disebutnya sudah seperti tes militer. Selain itu, anak pertama dari tiga bersaudara ini juga mengungkap kelebihan wanita dalam hal audit dibandingkan pria)

***

Apa tes paling berat yang harus dijalani saat seleksi anggota Dewan Komisioner OJK?
Semuanya itu berat ya, terutama waktu tes kompetensi. Itu kan dari jam setengah 7 pagi sampai jam 7 malam. Psikotes, tes kompetensi, ada juga stress tes juga. Sore-sore, kami dikasih soal-soal, disuruh memecahkan, dan menulis. Saya kira kalau boleh mengundurkan diri pada saat itu, ya rasanya kepingin sekali.

OJK merupakan lembaga pengawasan yang biasanya didominasi lelaki. Anda akan menghadapi persoalan gender?
Financial Institution di Asia itu banyak perempuannya. Itu membuktikan bahwa perempuan tidak bisa dijatah-jatah. Kalau memang kompetensinya bagus, ya memang jadi dia. Jangan karena jatah kemudian kita terbelenggu karena jatah. Kami semua harus melalui suatu tes.

Kalau di ranah politik saya nggak tahu tesnya darimana, barangkali dari akar rumput. Dan akar rumputnya lebih banyak memilih laki-laki dibandingkan perempuan. Tapi kalau ini kan hasil tes. Kalau hasil tesnya banyak perempuan ya kalau mau konsekuen kita harus memilih perempuan-perempuan itu.

Apa keunggulan wanita dibanding pria dalam hal audit?
Kalau saya menilai, perempuan lebih sabar. Kalau misalnya mengerjakan sesuatu nggak dapat, ditungguin sampai dapat. Mungkin itu ya, lebih sabar, lebih teliti. Dan faktanya mayoritas auditor di BPK, sekitar 60 persen, perempuan. Kemarin itu, kami memang agak kesulitan pada saat mutasi ke luar kota, karena ada suaminya. Tapi ini kan persoalan teknis yang bisa diatasi.

Pengalaman Anda menjadi auditor cukup membantu dalam tugas sekarang sebagai Dewan Komisioner OJK?
Saya waktu di BPK, itu kan auditor utama yang membawahi BUMN. 141 BUMN dimana di dalamnya ada bank dan asuransi. Pegadaian di bawah saya, pembiayaan juga di bawah saya. Jadi memang yang besar-besar itu saya sudah tahu. Bagaimana bisnis proses mereka. Karena yang namanya auditor harus tahu bisnis proses, nggak mungkin auditor itu nggak tahu bisnis proses.

Bagaimana Anda melihat peran akuntan dalam pemberantasan korupsi?
Korupsi itu sebetulnya bagian dari fraud. Lebih populer korupsi. Sebetulnya fraud itu ada tiga, satu korupsi. Kedua, misappropriation (kepada fisik,pencurian aset). Ketiga, fraudulent statement (kecurangan dalam penyajian laporan keuangan).

Tiga macam ini namanya fraud. Tapi yang kita kenal korupsi. Akuntansi itu lebih kepada preventif, internal kontrol itu kepada preventif. Tapi semuanya itu sebetulnya nggak bisa dijamin bahwa akuntansi itu mengindari, tapi bisa dilakukan preventif, penghindaran fraud. Sistem early warning. Akuntansi kan hanya bagian kecil saja. Ilmunya macam-macam.

Tapi bukankah “mesinnya” akuntansi?
Itu untuk Fraudulent Statement, tapi untuk korupsi nggak karena korupsi nggak perlu cacatan. Fraudulent Statement itu dia fraud melalui catatan. Apakah dia mencatat lebih kurang, tanggal akuntansinya, dia pakai yang seperti apa supaya labanya besar, supaya labanya kecil nggak bayar pajak. Melakukan perataan laba, melakukan manipulasi data, itu Fraudulent Statement namanya. Kalau yang namanya korupsi, itu fisik, nggak perlu catatan.

Bagaimana respons Anda jika yang diawasi berusaha “main mata”?
Yang pertama kali internal audit itu konsepnya helicopter view dan konsultan, bukan watchdog. Dari awal kita harus membuat suatu perangkat pengendalian intern. kalau misalnya ada orang yang “main mata”, itu adalah suatu integritas yang tidak baik. Komisioner Eksekutifnya dulu sudah harus menindak.

Dengan sistem yang ada, insya Allah yang kayak begitu nggak boleh. Kami juga kan nggak membuat suatu aparat dia itu jadi raja, yang hanya menentukan dia. Kami kan kolektif kolegial. Di bawah juga seperti itu, berjenjang kontrolnya. Satu sama lain saling mengawasi.

Jadi kami prinsipnya harus sama-sama, value-nya melakukan pelayanan dengan efektif, melakukan pengawasan dan pemeriksaan. “Kami bukan orang yang mencari-cari kesalahan, tapi meng-educate mereka supaya tidak berbuat salah, membuatkan sistem supaya mereka bergerak on track. karena industri yang akan sehat adalah industri yang govern.

***

(Ilya mengaku akuntan bukan cita-citanya sejak kecil. Baik kedua orangtuanya pun tak memiliki latar belakang sebagai akuntan. Sang ayahanda Marsekal (Purn) Sugito adalah mantan perwira tinggi Angkatan Udara. Sementara ibunda tercinta, Indiarti Sugito adalah dosen Fakultas Hukum di UNPAD)

***

Dilihat dari latar belakang pendidikan, Anda konsisten dengan dunia akuntansi mulai dari S1 sampai S3? Apakah sejak awal tertarik menjadi akuntan?

Oh nggak. Dulu saya kepinginnya jadi pilot pesawat tempur. Bukan pilot kayak Garuda. Tapi nggak tahu kok jadinya akuntan.

Apa ada sejarah keluarga?
Nggak, ayah saya AURI. Kalau zaman dulu akuntan kan belum terkenal. Apa sih akuntan? Namanya anak kecil, kalau ditanya cita-citanya apa, jadi insinyur kalau nggak dokter.

Pada saat saya memilih ke perguruan tinggi saya melihat kok ekonomi ini menaril, ada sesuatu yang ingin saya pelajari. Nggak tahu apa. Setelah masuk ke ekonomi, kok juusan akuntansi ini sangat eksklusif. Dosennya juga dosen terbang, kemudian sekolahnya kadang-kadang sore hari, kadang dosennya jarang dan sekolahnya paling lama.

Waktu kuliahnya saja itu lima tahun. Kalau jurusan lain, lima tahun sudah selesai. Harus ada wajib kerja sarjana (WKS) ada magang. Dan waktu zaman dulu saking jarangnya, BPKP menggaji akuntan dengan tambahan tunjangan, namanya tunjangan kelangkaan…hahaha. Nah, karena susahnya itu, saya jadi kepingin.

Jadi memang betul-betul ter-encourage masuk akuntansi karena pada saat itu jarang dan eksklusif. Perempuannya sedikit, nggak lebih dari 10. Kemudian setelah lulus, saya menjadi dosen. Orang lain ingin ke pajak, ke Bank Indonesia. Saya simple sekali, ingin mengajar saja.

Kenapa pilih mengajar padahal di swasta gaji lebih besar?
Kenapa saya mau jadi dosen? Karena ibu saya dosen. Dan saya memang tingkat tiga sudah mengajar jadi asisten, terus jadi dosen. Ini nggak sempat melamar ke dunia usaha lain, industri lain. Ya sudah diterusin. PNS juga otomatis karena dari asisten dosen. Terus seperti itu.

Saya waktu itu jadi kepala SPI Unpad, dari situ Menteri Keuangan (Jusuf Anwar) pada suatu saat minta ke rektor, “Tolong dong saya dicarikan akuntan yang dari Unpad.”

Karena kan isinya Kemenkeu kebanyakan dari UGM dan Universitas Indonesia. Dari UNPAD kok nggak ada. Nah, jadi staf khusus di situ, kemudian ganti dilanjut sama Ibu Sri Mulyani. Setelah itu saya kembali ke Unpad. Karena waktu itu kan pinjam. Yang pinjam Jusuf Anwar.

Terus kembali ke Unpad setahun. Saya memang sengaja untuk menyelesaikan Guru Besar. Kan Guru Besar harus mengajar, harus penelitian. Saya selesaikan itu, bikin buku. Pas selesai diminta sama Pak Anwar Nasution di BPK. Jadi Staf Tenaga Ahli dulu, kemudian menjadi Auditor Utama.

***

(Dari pernikahannya dengan Achmad Zaky Hamid, Ilya dikaruniai dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Namun, tak satupun dari putra putrinya yang mengikuti jejak Ilya sebagai akuntan. Ilya juga menuturkan, putra putrinya sudah mafhum dengan kesibukannya saat ini)

***

Dengan jabatan baru sekarang, pastinya Anda lebih sibuk. Bagaimana tanggapan anak-anak?
Anak saya yang nomor satu sudah wiraswasta, lulusan akuntansi. Dia nggak mau jadi pegawai. Yang nomor dua, terakhir sudah skripsi di ITB, elektro. Kemudian suami saya adalah konsultan IT. Jadi kalau ditanya sekarang sudah apa ya, sudah tua. sebagai ibu rumah tangga, kami tinggal bersama-sama memahami kegiatan masing-masing.

Pernah ada keluhan dari anak-anak?
Anak-anak sudah terbiasa dari kecil melihat ibunya perdi mengajar. Mereka sudah terbiasa mandiri kelihatannya. Saya nggak tahu, mungkin anak-anak dijaga oleh Allah. Allah memberikan perlindungan. Alhamdulillah.

Berapa jam sehari waktu yang dihabiskan untuk lembaga sebesar ini?
Sekarang totally commit untuk lembaga ini supaya tidak gagal.

Bagaimana membagi waktu untuk keluarga. Apakah ada kegiatan di akhir pekan?
Weekend di Bandung. Saya kebetulan hobinya nggak banyak. Lihat tanaman yang hijau-hijau, lihat tanaman ikan, makan enak, makan di rumah masak sendiri, kadang beli di luar sama anak-anak dan suami.

Pernah ada penyesalan, di saat anak-anak tumbuh Anda justru lebih banyak bekerja di luar?
Mungkin ada, saya kira nggak ada perjalanan rumah tangga yang mulus. Itu pasti ada, tapi kan coverable. anak-anak waktu tumbuh, puber, itu coverable. Normal lah. Mungkin ya Allah juga kan menjaga anak-anak saya, sehingga Alhamdulillah karena dijaga sama Allah itu.

Barangkali waktu anak-anak kecil saya nggak biasakan jalan ke mal, nggak biasakan yang konsumtif.

Saya memang nggak pernah nungguin anak-anak di sekolah, tapi jemput itu saya usahakan. Antar lebih sering, antar anak-anak ke sekolah. Kalau nggak ada, sopir. Kebetulan anak-anak saya nggak bermasalah, jadi saya jarang dipanggil ke sekolah. Semuanya serba kebetulan.

Apakah Anda termasuk orangtua yang memaksa anak belajar?
Saya dari dulu nggak pernah memaksa anak-anak saya belajar. Anak-anak semakin dipaksa semakin nggak mau. Mungkin disiplin itu diterapkan sampai kelas 3 SD. Aayo bangun, salat. Setelah itu kelas 4 dan kelas 5 terbentuk sendiri dengan lingkungan, kebiasaan.

Kalau misalnya bikin PR baru pagi-pagi, itu di sekolah ketahuan sama gurunya bahwa itu dibuat pagi-pagi atau malamnya sehingga anak-anak bisa membagi waktu.

Anak-anak waktu kecil begitu pulang sekolah, dia bikin PR setelah itu baru main, nggak disuruh. Kalau saya nyuruh-nyuruh capek. Marah-marah juga capek. Cuma mereka melihat bagaimana kegiatan saya, bagaimana saya menghadapi mahasiswa. Mereka dewasa sendiri.

Apakah ada keinginan salah satu anak melanjutkan profesi sebagai akuntan?
Awalnya alangkah indahnya kalau anak-anak melanjutkan. Saya dulu punya kantor akuntan. Anak saya paling besar akuntan, ternyata pilihannya nggak ke situ. Ternyata dia nggak mau jadi akuntan. Sudah sekolah, lulus, kepingin jadi wiraswasta. Kita sebagai orangtua kan harus mendoakan saja.

Anak yang ke-2, nggak tahu mau jadi apa. Tapi dia sudah jadi asisten dosen di ITB. Ke depan, apakah mau sekolah lagi, mau usaha, orangtua kan hanya memfasilitasi dan mendoakan. Katanya Allah sudah menentukan jalannya masing-masing. Kita harus percaya itu.

***

(Bagi Ilya berhenti beraktivitas saat masih diberikan kesehatan adalah pantang. Meski nantinya sudah tak lagi menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner OKJ, Ilya mengaku tetap akan melakukan hal-hal positif yang bisa ia kerjakan)

***

Kapan waktu Anda istirahat atau menikmati hidup?
Saya bekerja itu juga bentuk dari menikmati hidup. Yang namanya bekerja itu juga menikmati hidup. Orang lihat, “Ibu kok hari sabtu pakai ngajar, kapan istirahatnya.”

Mengajar itu istirahat, hiburan buat saya, ketemu teman-teman dosen. Bimbingan itu hiburan buat saya. istirahatnya ya itu. Apa istirahat tidur?
Kalau membimbing mahasiswa itu kan ngobrol saja. Saya harus sharing dari mahasiswa. Mahasiswa kan yang setiap hari baca buku. Saya mana baca buku, baca UU, peraturan. Teorinya kan sudah ketinggalan.

Mengapa tidak berminat mencari gelar di luar negeri?
Pertama kali iya, sebelum kawin. Setelah kawin saya memutuskan untuk sekolah di dalam negeri saja. Tapi kan ada short course 3 bulanan. Kemudian kalau ada short course di Singapura, Australia ya pergilah ke sana karena ternyata sekarang kan pakai internet bisa.

Apakah tidak ada keinginan masuk politik?
Nggak. Saya buta sama sekali soal politik. Saya nggak ingin menggeluti bidang yang saya nggak kuasai. Saya ingin bekerja banyak teman, kenalan, silaturahmi ke sana-kesini.

Seperti dosen itu saya menyukai kenapa? Banyak sekali mahasiswa dan mantan mahasiswa di mana-mana. Dulu susah dapet tiket kereta api, eh ada mahasiswa yang nolongin. Dagang kemana, disapa, “Bu saya mahasiwa ibu dulu.” Itu rasanya puas banget. Nggak ada kepuasan dari melihat murid itu berhasil. Kok diaku yang sama mahasiswa.

Di Indonesia lebih banyak wanita di rumah karena kultur. Bagaimana menurut Anda?
Yang namanya wanita harus pintar karena itu adalah modal untuk mendidik anak-anaknya. Kalau wanita nggak pintar, dia nggak tahu harus mendidik anak-anaknya seperti apa. Sekarang bagaimana caranya pintar? Apakah harus sekolah tinggi? Nggak.

Orang harus pintar dengan browsing, membaca, ikut bergaul, ikut organisasi, ikut perkumpulan. Yang penting dia belajar. Belajar kan nggak harus ada kuliahnya, di bangku dapat ijazah, nggak. Lebih bagus ada formal, ketika dia sudah pensiun jadi ibu, bisa kerja atau apa. Lebih bagus, tapi kan nggak semua wanita itu punya kesempatan sekolah, meninggalkan rumah.

Setelah 5 tahun masa jabatan di OJK berakhir, apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya?
Itu masih jauh, pokoknya sekarang mengerjakan apa yang terbaik yang bisa saya kerjakan. Lima tahun lagi mau jadi apa, saya belum kepikir. Wong tadinya juga di BPK saya mau balik ke Unpad, kok jadi nggak kejadian. Tergantung, itu kan dari Allah mau seperti apa.

Ada rencana setelah pensiun?
Pensiun itu apa sih? Kita nggak boleh berhenti beraktivitas, apapun. Pensiun itu hanya istilah kepegawaian. Tetapi kita beraktivitas harus sampai hayat di kandung badan. Kan ada ajaran Islam. Kita nggak boleh berhenti beraktivitas, tetap harus melakukan yang positif bagi banyak orang.

Kalau misalnya saya nggak jadi di OJK, apa saya nggak bisa mengurus pesantren? Apa saya nggak bisa mengurus anak yatim, beraktivitas yang lain? Harus ada. Misalnya, saya sudah tua mau belajar human relation. Bisa juga. Wong, tua itu nggak ada waktu habis untuk belajar.

***

(Tak terasa perbincangan VIVAlife dengan Ilya Avianti harus berakhir. Kesuksesan yang diraih Ilya saat ini barangkali tak lepas dari filosofi yang ia pegang erat, filosofi yang terilhami dari sang ayahanda: selalu menanam ke bawah, bukan ke atas. Artinya anak buah jangan suka melayani atasan. Melainkan atasan yang melayani bawahan.)

***
sumber: VIVAlife

Menjual dan Menyewakan Media Display

..