Kisah Elizabeth Edwards Melawan Kanker

NAMA Elizabeth Edwards dikenal sebagai penulis buku laris yang menjadi kekuatan pendorong di balik kesuksesan karier politik suaminya, John Edwards. Dalam dekade terakhir kehidupannya, ia mesti berhadapan dengan kejutan menyakitkan tentang perselingkuhan sang suami, serta berjuang melawan kanker payudara yang dideritanya.

Pada 6 Desember 2010, keluarganya mengumumkan bahwa kanker yang diderita Elizabeth telah menyebar. Para dokter yang menanganinya merekomendasikan, pengobatan lebih lanjut tidak akan membuahkan hasil. Perjuangan Elizabeth melawan kanker berakhir sehari kemudian. Ia menghembuskan nafas terakhir di rumahnya di Chapel Hill, North Carolina, pada usia 61 tahun.

Seorang teman menggambarkan detik-detik terakhir kehidupannya sebagai momen yang ”sangat damai.”

”Elizabeth tidak ingin orang-orang mengatakan dia kalah bertempur melawan kanker. Pertempuran itu adalah tentang menjalani hidup sebaik-baiknya, dan bahwa dia memenangkannya,” ujar teman tersebut seperti dikutip situs today.msnbc.msn.com.

Aktivis kesehatan
Semasa hidupnya, perempuan bernama asli Mary Elizabeth Anania itu berprofesi sebagai pengacara, penulis buku laris, sekaligus aktivis kesehatan. Dia menikah dengan John Edwards, mantan senator Amerika Serikat (AS) dari North Carolina, yang pernah menjadi kandidat wakil presiden AS dari Partai Demokrat pada pemilu 2004.

Elizabeth berperan penting dalam mendorong sang suami untuk bersikap lebih liberal, tentang topik-topik seperti perawatan kesehatan universal. Ia juga seorang pendukung pernikahan sesama jenis dan menolak perang di Irak. Dua topik inilah yang sering membuatnya berbeda pendapat dengan John.

Perpisahan
Rumah tangga yang mereka bina akhirnya kandas, menyusul kisah perselingkuhan yang dilakukan sang suami. Keduanya berpisah pada awal 2010.

Elizabeth pertama kali didiagnosis menderita kanker payudara dan menjalani sejumlah pengobatan pada 2004. Di awal April 2007, ia diberitahu bahwa kanker tersebut mungkin dapat diobati dengan obat anti-estrogen.

”Saya menganggap hal itu sebagai pertanda baik. Artinya, ada lebih banyak pengobatan yang bisa saya harapkan responsif.”

Tapi, kanker tersebut ternyata menyerang lagi dan menyebar ke berbagai bagian lain tubuhnya. ”Ketika saya pertama kali didiagnosa [kanker], saya ingin mengalahkannya. Saya ingin menjadi jawara penakhluk kanker. Dan saya tidak memiliki perasaan itu sekarang. Kanker ini pada akhirnya akan membunuhku. Kanker itu akan memenangkan pertarungan ini,” ujarnya.

Elizabeth menulis dua buku laris, masing-masing berjudul ‘Resilience’ dan ‘Saving Graces.’ Kedua buku itu berkisah tentang perjuangan panjangnya melawan kanker dan skandal perselingkuhan suaminya.

Ibu tiga anak ini juga menjadi advokat haknya sendiri atas reformasi perawatan kesehatan, serta untuk masyarakat miskin, dua isu yang juga menjadi perhatian suaminya.

”Negara kita telah diuntungkan dengan suara yang ia berikan untuk membangun sebuah masyarakat, yang mengangkat semua yang tertinggal di belakang,” cetus Presiden AS Barack Obama.

Sebelum didiagnosis menderita kanker, Elizabeth sudah mulai menulis sepucuk surat untuk anak-anaknya, berisi nasihat yang dapat mereka gunakan setelah ia meninggal dunia. Misalnya, bagaimana cara memilih gereja atau pasangan hidup.

Sejak meninggalkan praktik hukum pascakematian putranya, Wade, akibat kecelakaan mobil pada 1996, Elizabeth mengabdikan hidupnya untuk mengelola Wade Edwards Foundation sebuah yayasan nirlaba yang mendorong dan menginspirasi kaum muda untuk mengejar kemajuan.

sumber: Yulia Permata Sari, mediaindonesia.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..