Malalai Joya, Perempuan Paling Berani di Afganistan

MALALAI Joya adalah aktivis hak-hak perempuan terkemuka di Afganistan, yang kini terpaksa hidup dalam persembunyian karena ancaman musuh-musuhnya. Mantan politisi ini sudah lima kali menjadi target upaya pembunuhan oleh pihak-pihak yang merasa terganggu dengan eksistensinya.

Perempuan berusia 33 tahun, yang dikenal lantang menyuarakan hak-hak kaumnya, ini menjabat sebagai anggota parlemen di Majelis Nasional Afganistan dari 2005 sampai awal 2007. Ia lantas diberhentikan karena secara terbuka mencela kehadiran mereka yang dianggapnya sebagai panglima perang dan penjahat perang di parlemen Afganistan.

Petisi
Joya adalah seorang pengkritik keras pemerintahan Karzai dan para pendukung Barat-nya, khususnya Amerika Serikat. Suspensi terhadap dirinya pada Mei 2007 memicu protes internasional dan seruan untuk mengembalikan posisinya. Kalangan intelektual tinggi seperti Noam Chomsky dan para politisi, termasuk sejumlah anggota parlemen dari Kanada, Jerman, Inggris, Italia, dan Spanyol, turut menandatangani petisi tersebut.

Sejumlah orang sering menyebutnya sebagai ‘perempuan paling berani di Afganistan.’

Dilahirkan di Provinsi Farah, Afganistan, pada 25 April 1978, Joya mulai terlibat dalam pekerjaan kemanusiaan sejak duduk di kelas delapan. Bekerja di antara orang-orang yang membutuhkan, terutama perempuan, merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan baginya.

Joya bekerja dengan sejumlah komite berbeda di kamp-kamp pengungsi. ”Saya ingat bahwa setiap rumah yang saya datangi memiliki berbagai cerita tentang penderitaan yang berbeda-beda. Saya ingat satu keluarga yang kami temui. Bayi mereka tinggal kulit dan tulang. Mereka tidak mampu membawa bayi mereka ke dokter, sehingga mereka hanya menunggu untuk melihatnya mati,” kisahnya suatu kali.

Setelah penarikan Soviet dari Afganistan, Joya kembali ke tanah kelahirannya pada 1998, yang saat itu berada di bawah pemerintahan Taliban (keluarganya mengungsi ke Iran pada saat ia masih berusia empat tahun). Sebagai perempuan muda, ia bekerja sebagai aktivis sosial dan ditunjuk sebagai direktur sebuah organisasi nonpemerintah yang mempromosikan kemampuan perempuan Afganistan, Organisation of Promoting Afghan Women’s Capabilities (OPAWC), di Provinsi Herat dan Farah.

Joya meraih perhatian internasional ketika ia berbicara secara terbuka melawan dominasi panglima perang pada 17 Desember 2003. Sebagai delegasi terpilih, ia mengecam para pemimpin mujahidin di Loya Jirga (majelis nasional), sebagai panglima perang yang bersalah karena menghancurkan negara dan membunuh ribuan orang selama perang saudara yang brutal sebelum rezim Taliban.

Ancaman kematian
Pidatonya selama dua menit di depan mikrofon itu sontak memicu keributan. Sebagai tanggapan, ia disebut sebagai kafir dan komunis. Dalam sebuah wawancara televisi pada 2007, ia menyamakan rekan-rekannya, yang kebanyakan laki-laki, dengan hewan ternak. Akibatnya, ia menerima banyak ancaman kematian dan suspensi tak terbatas dari parlemen.

Sejak itu, Joya mulai berkampanye di belakang layar. Ia menyalahkan Amerika Seriakt atas kematian warga sipil dan karena bekerja dengan pialang kekuasaan yang telah merendahkan perempuan Afganistan. Pada 2010, Joya terpilih sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia bersi majalah Time.

sumber: mediaindonesia.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..