Antara Integritas Pribadi dan Profesional

Isu integritas memang sangat penting dan krusial. Rasanya tidak satu hari pun kita bisa lepas dari perbincangan mengenai penguatan integritas. Saya teringat terus komentar seseorang yang menceriterakan betapa sebuah lembaga dipenuhi pegawai yang korupsi dan bahkan nyata-nyata diupah oleh orang-orang yang sebenarnya harus mereka awasi. Hal yang memancing keheranannya, pada saat waktunya beribadah, terlihat hampir semua karyawan di lembaga tersebut tertib beribadah. Pertanyaan yang muncul di benak adalah, apakah teman-teman kita ini tidak pernah merasa bahwa penyimpangan dan korupsi yang dilakukan di pekerjaan telah melanggar integritas pribadinya? Dari situasi ini kita bisa jelas melihat kesenjangan antara upaya penguatan nurani pribadi dengan penguatan integritas profesi.

Besarnya tantangan mengatur distribusi bahan bakar bagi golongan tidak mampu, mendorong keluarnya himbauan, bahkan fatwa, yang mengaitkan larangan memakai subsidi bahan bakar ini dengan integritas pribadi. Dasar pemikirannya adalah bila seseorang berpegang pada integritas pribadinya, maka ia pun akan menjaga kepentingan umum. Hal ini membuktikan bahwa ada keyakinan integritas pribadi lebih mudah dikuatkan daripada integritas profesi. Benarkah itu?

Dari pengalaman di bangku sekolah, murid yang tidak mau menyontek banyak teringat pada pesan-pesan dari orang tua rumah. Integritasnya di sekolah, dibawanya dari rumah. Namun, tidak jarang pula anak yang soleh di rumah melakukan kenakalan-kenakalan remaja bersama dengan teman-temannya. Mengembangkan integritas memang bukan hal yang mudah, apalagi mensinkronkan integritas pribadi, profesional, dan memperkokohnya di lingkungan yang begitu kompleks, penuh godaan dan kesulitan ini.

Integritas selalu “on the line”
Apa yang Anda lakukan bila atasan menginstruksikan untuk menandatangani dokumen yang sebenarnya tidak memenuhi syarat dan tidak Anda loloskan? Pada saat itu integritas pribadi dan integritas profesi yang Anda junjung berperang dengan integritas atasan. Secara profesional Anda tahu itu salah, secara pribadi Anda tidak mau berbuat curang. Namun, kenyataannya Anda bisa dipecat, sementara mencari pekerjaan dan nafkah untuk anak-istri di saat sekarang sangatlah sulit.

Integritas Anda berperang dengan situasi realistis. Dalam dunia bisnis, pertentangan nilai akan selalu menggoda kita, misalnya atasan yang menyuruh melakukan jalan pintas atau mitra kerja yang memberikan “tanda terimakasih” atas bantuan yang Anda berikan. Saat Anda bersiap meninggalkan kantor di sore hari, telepon di meja Anda tiba-tiba berdering. Anda pasti membatin, “Kalau tidak saya angkat telpon ini, tidak ada orang yang tahu juga. Tapi, bagaimana bila ini mengenai hal yang sangat genting?” Dalam kesendirian pun, peperangan batin ini sering terjadi.

Kita bisa rasakan sendiri, baik dalam situasi di komunitas, korporasi, dunia politik, maupun masalah kemanusiaan, kita akan tertantang untuk mencari keutuhan karakter yang lebih berharga dari diri kita sendiri. Akankah kita membela orang yang jelas-jelas salah, padahal hati nurani kita ingin mencercanya? Bagaimana menghindari pembayaran pajak yang terlalu besar dan tak jelas penggunaannya oleh negara, sementara di sumpah profesi, Anda sudah berjanji untuk membukukan semua pemasukan?

Sesekali hati nurani kita menang, sesekali juga kita mengalah pada situasi. Orang yang dalam banyak, bahkan hampir semua, kasus memenangkan integritasnya, tentu bisa menegakkan kepala dan menghargai karakternya. Keutuhan nilai yang dihayati dari hari ke hari lah yang menguatkan integritas pribadi seseorang, menjauhkan kita dari jebakan kemunafikan, bahkan ketidakjujuran.

Risiko dan keberanian
Masih banyak orang yang merasa bahwa orang yang berintegritas adalah orang yang berdisiplin mati, memandang hidup seolah-olah dunia terbagi dua, antara hitam dan putih, benar dan salah. Padahal, mengejar integritas bukan selalu berarti bahwa kita tidak berkompromi. Bila nilai di sebuah perusahaan tidak sejalan dengan integritas pribadi yang kita pegang, kita sebetulnya bisa mengadakan dialog baik di dalam diri sendiri maupun secara terbuka dengan pihak perusahaan. Integritas berkembang dan bersifat dinamis bukan monolitik dan statis.

Dalam kondisi di mana hampir di semua instansi terjadi suap-menyuap, seorang CEO menyerukan kepada karyawannya, bahwa mulai sekarang perusahaan tidak akan membayarkan semua bentuk “under table money” yang pada masa sebelumnya bahkan diresmikan dan tercatat di pembukuan perusahaan. Keputusan ini tentu mengundang banyak protes. Salesman yang sudah terbiasa dengan praktik ini, merasa perang “tanpa bekal peluru” sehingga perusahaan mendapatkan cercaan yang lumayan menyakitkan.

Dalam kondisi seperti ini, setiap individu, baik yang mewakili manajemen atau dirinya sendiri perlu berpikir ulang, mengenai konsekuensi dan akibat potensial yang bisa terjadi bila keputusan ini tidak dijalankan. Siapkah kita menghadapi KPK? Apakah integritas lebih penting daripada risiko yang mungkin terjadi? Apakah aturan baru ini justru bisa menjunjung harkat kita sebagai warganegara yang baik dan manusia?

Tidak selamanya integritas pribadi yang harus dikalahkan. Bila seorang individu memprotes praktik-praktik yang dinilai bertentangan dengan integritas pribadinya, perusahaan atau komunitas pun sebetulnya dapat menghargai, bahkan terdorong untuk mengolah kembali nilai-nilai yang dianutnya. Orang yang berintegritas, tidak perlu merasa sendirian dan terisolasi. Konflik integritas pribadi, profesi, dan budaya perusahaan, pasti terjadi. Namun kita semua pasti setuju bahwa dengan menjunjung tinggi integritas dan secara konsisten membelanya, kita pun akan ditunjang oleh teman-teman, lingkungan sosial, dan juga tempat kerja yang kondusif.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant), kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..