Inilah 7 Mitos Tentang Magang

7 Mitos Magang Ini. Persepsi keliru tentang magang, berpotensi membuatnya berlalu tanpa kesan. Kenali magang lebih dalam dan dapatkan manfaatnya.

Mitos 1: Perusahaan besar adalah tempat terbaik untuk magang.
Siapa yang tak mau magang di perusahaan yang namanya sudah tenar? Pengalaman kerja di perusahaan besar memang mampu meningkatkan nilai jual CV, tapi perusahaan kecil bisa memberikan kita kesempatan lebih besar dalam menjaring networking dan pengalaman.

Dalam buku Lies, Damned Lies & Internship, Heather R. Huhman menuliskan:

  1. Kalau di perusahaan besar biasanya kita kesulitan untuk berinteraksi dengan pimpinan perusahaan karena masalah birokrasi, perusahaan kecil memungkinkan kita untuk berinteraksi langsung. Gunakan kesempatan ini untuk menjalin hubungan baik. Dengan begitu banyak pengalaman dan peluang karier yang bisa ia berikan.
  2. Mudah berinteraksi dengan divisi lain karena lingkup kerja yang kecil. Dengan begitu banyak bidang lain yang bisa kita pelajari.
  3. Heather menegaskan, “Merasa punya potensi diri, mengapa tidak menjadi orang besar di perusahaan kecil dibanding orang kecil di perusahaan besar?”
  4. Jadi, jangan kelamaan patah hati bila perusahaan besar tak juga menyambut lamaran magang Anda. Coba lirik perusahaan lain yang mungkin lebih membutuhkan pemula.

Mitos 2: Harus pilih profesi yang sesuai dengan bidang studi.
Masih bingung ingin jadi apa, tak ada salahnya untuk mencoba karier di bidang lain yang masih relevan dengan jurusan. Misalnya, sebagai anak jurnalistik, tak ada keharusan untuk bekerja di media, Anda bisa kok magang di industri lain sebagai marketing-communication atau public relation. Selain menjajal skill dan kemampuan bekerja di berbagai bidang, kita juga akan tahu pekerjaan apa yang sebenarnya diinginkan. “Terkadang, menggeluti karier yang tak Anda inginkan membantu Anda menemukan karier impian,”ungkap Heather.

Mitos 3: Berlaku untuk mahasiswa.
Tawaran magang ternyata tak hanya berlaku untuk mereka yang masih berstatus mahasiswa. Fresh graduate atau Anda yang ingin beralih profesi juga bisa melakukannya. Kita bisa menanyakan langsung pada pihak perusahaan apakah sedang ada posisi magang untuk kategori itu. Beberapa perusahaan asing biasanya juga membuka kesempatan magang terlebih dahulu untuk menilai performa calon karyawan sebelum akhirnya ia diterima bekerja.

Mitos 4: Hanya melakukan pekerjaan sampingan, seperti fotocopy hingga bikin kopi.
Tidak menutup kemungkinan kalau ada perusahaan yang melakukannya, tapi percaya deh kalau itu hanya cerita lama. Kini, banyak perusahaan yang melibatkan anak magang untuk membantu menyelesaikan proyek utama. Kalau hari pertama Anda hanya diberi pekerjaan mem-fotocopy, mensortir email, atau mengangkat telepon, bisa jadi itu hanya tahap uji coba. Namun kalau hampir sebulan tak ada perkembangan, barulah pertimbangkan lagi untuk lanjut atau berhenti.

Mitos 5: Tak dibayar sama sekali.
Tidak semua perusahaan memberikan upah pada anak magang. Tapi biasanya mereka akan mengakomodir uang harian untuk makan dan transportasi. Namun ada juga perusahaan yang menawarkan gaji lumayan besar. Bila ini termasuk hal penting untuk Anda, tak ada salahnya untuk bertanya agar tidak kecewa. Tapi yang pasti, pengalaman yang Anda dapat jauh lebih penting dari itu.

Mitos 6: Jangan pernah menolak tawaran magang.
Menolak atau menerima tawaran magang sepenuhnya ada di tangan kita. Bila waktu yang ditawarkan tidak pas, pekerjaan tidak sesuai harapan, ungkapkan alasan yang baik kepada perusahaan. Nah, agar tak salah pilih tempat magang, ada beberapa poin yang sebaiknya dipertimbangkan, yaitu:

  1. Jarak tempuh. Pastikan jarak antar rumah dan tempat magang tidak membuat kita tua di jalan. Selain menguras energi, jalanan macet berpotensi membuat kita sering telat, bisa-bisa kita dianggap tidak disiplin.
  2. Jam kerja. Apakah sesuai dengan waktu yang Anda punya? Jangan sampai Anda menderita karena harus lembur. Termasuk lamanya magang, jangan sampai kita hanya ingin magang satu bulan tapi perusahaan minta tiga bulan.

Mitos 7: Setelah magang langsung jadi karyawan tetap.
Ada posisi lowong di tempat magang, kedekatan dengan perusahaan memang memungkinkan kita diterima bekerja dibanding calon pelamar lain. Namun, magang tetap saja bukan jaminan. Perusahaan punya tahapan yang harus dilewati, seperti psikotes, wawancara kerja, dan lainnya. Termasuk menilai kinerja dan potensi kita selama magang.

(Majalah Chic/Ayunda Pininta Kasih), kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..