Inilah Sisi Positif dari Evaluasi Negatif

Karyawan pasti mendapatkan evaluasi kerja di mana ia diberikan umpan balik atas apa yang dilakukannya selama bekerja. Tujuannya, tentu saja untuk perbaikan atau peningkatan kinerja karyawan di kemudian hari. Selain berisi tentang kelemahan dan kekurangan karyawan, evaluasi juga menginformasikan kekuatan dan kelebihan.

“Diharapkan, kelemahannya mengalami perubahan dan pengembangan ke arah yang baik, sedangkan kekuatannya terus meningkat,” ujar Hayu Prima Indrastuti, konsultan karier dari Experd.

Sayangnya, tak semua karyawan mendapatkan evaluasi positif. Nah, ketika atasan menilai hasil kerja Anda tidak memuaskan, Anda pasti ingin buru-buru membela diri, kan? Tindakan ini wajar saja karena pada dasarnya setiap orang merasa sudah memberikan yang terbaik.

Namun Hayu justru menyarankan untuk tidak terlalu membela diri dengan cara negatif atau menganggap personal hasil evaluasi tersebut. Selain “nilai” Anda akan lebih buruk di hadapan atasan, Anda juga akan dianggap kurang matang secara emosional dan mengganggu hubungan kerja dengan atasan. Sebaliknya, sikap kooperatif dan mampu menerima evaluasi, menunjukkan Anda siap berkembang dan menghadapi perubahan.

Membela diri
Alangkah baiknya, jika sebelum merespons, Anda berpikir bahwa atasan tidak bermaksud menjatuhkan. Melainkan atasan masih menginginkan Anda dan ingin Anda menjadi lebih baik. Sehingga menurut Hayu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memberikan bahasa tubuh atau gestur positif. Bagaimanapun juga, proses penyampaian evaluasi bukan hal yang mudah bagi atasan. Ia juga pasti menghadapi rasa tidak nyaman saat menyampaikannya.

Kedua, menurut BJ Gallagher, konsultan karier dan penulis buku It’s Never Too Late to be What You Might Have Been, cobalah menerima hasil evaluasi yang buruk tersebut apa adanya. Bila diawali dengan penolakan ataupun pembelaan, inti evaluasi cenderung tak bisa diperoleh.

Ketiga, buat pertanyaan di mana Anda akan memperoleh gambaran jelas apakah perilaku Anda selama ini sudah sesuai dengan perilaku yang diharapkan atasan. Hal ini juga bisa membantu Anda menentukan apakah evaluasi tersebut benar atau hanya rumor. Contohnya, jika evaluasinya mengenai kinerja, tanyakan standar kerja atasan agar Anda bisa melakukan perbaikan. Keempat, pilihlah kata-kata yang tidak mengesankan Anda membela diri. Kelima, jangan lupa ucapkan terima kasih atas evaluasi sekaligus berikan komitmen untuk berubah. Bila memang diperlukan, tanyakan kemungkinan melakukan evaluasi tambahan untuk memantau perubahan yang sudah Anda buat.

Berubah lebih baik
Setelah evaluasi kerja, individu diharapkan bisa berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan tersebut sebisa mungkin terlihat dari ritme, sistem, dan performa kerja. Nah, sebelum melakukan perubahan tiga hal tadi, Anda harus mengenali kekuatan dan kelemahan serta merencanakan memperbaiki kekurangan dan memperkuat kelebihan. Langkah selanjutnya bisa dibilang sebagai masa terberat, yaitu melakukan perubahan.

Lalu, evaluasi diri secara berkala untuk memonitor keberhasilan. Ingat, rencana perubahan yang telah Anda buat bagaikan eksperimen yang bisa saja berhasil atau gagal. Jika gagal, tak perlu berkecil hati. Anda bisa memulai kembali mengevaluasi dan perencanaan. Atau, bertanyalah kepada rekan kerja yang lain atau atasan. Mereka mungkin bisa memberikan ide atau saran yang lebih baik.

Bekerja cerdas
Saat ini, tak cukup bagi seorang karyawan hanya bekerja sesuai standar atau job description yang diberikan perusahaan. Terlebih lagi, di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan dituntut mengikuti perkembangan bisnis. Inilah yang kemudian membuat perusahaan juga menuntut karyawannya untuk terus belajar, berkembang, dan berinovasi.

Dengan kata lain, Anda harus mampu memberikan “extra miles” atau nilai tambah dalam setiap pekerjaan yang Anda lakukan. Di antaranya, memperhatikan perkembangan dalam industri yang Anda geluti, perubahan atau tren apa yang terjadi saat ini agar tetap up to date, dan fleksibel dengan perubahan seperti perkembangan teknologi. Atau, melakukan inovasi meski bukan hal yang baru. Contohnya, membuat sistem kerja Anda menjadi lebih efisien untuk tim.

Bekerja cerdas juga termasuk extra miles. Konsep ini berbeda dengan bekerja keras sebab bekerja cerdas berarti setiap pekerjaan dilakukan seefektif dan seefisien mungkin dengan sumber daya yang ada. Plus, memotong jalur-jalur kerja yang tidak lagi menambah beban terhadap hasil pekerjaan Anda. Misalnya, bila saat ini laporan dilakukan dengan jangka waktu lima hari, Anda bisa memotong waktu laporan dengan membuat database yang memungkinkan laporan dibuat lebih cepat. Atau bila diminta membuat laporan, buatlah laporan yang bisa dipahami dengan cepat oleh atasan.

Nah, jika Anda masih saja kerja lembur, segera ubah kebiasaan ini. Pasalnya, bekerja lembur kini tak lagi menjadi indikator seseorang bekerja keras, lho. Yang dinilai justru pengelolaan waktu yang ada dan tetap menghasilkan hasil akhir yang berkualitas. Apalagi jika 90 persen waktu kerja Anda dipenuhi lembur. Lebih baik, evaluasi kembali, apakah load kerja yang terlalu tinggi atau Anda sendiri yang bekerja dalam sistem yang tidak efektif.

Dekat dengan atasan
Anda boleh saja berteman dengan atasan, tapi bukan berarti Anda mendapatkan peluang untuk lolos dari nilai evaluasi yang buruk. “Berteman atau bersahabat dengan atasan sah-sah saja, tapi itu tidak akan menjamin Anda akan selalu mendapatkan nilai bagus saat evaluasi,” ujar Hayu.

Akan tetapi, Anda bisa memanfaatkan kedekatan tersebut untuk membantu Anda memahami tuntutan yang diberikan oleh perusahaan. Selain itu, kedekatan juga bisa membuat komunikasi yang terjalin saat evaluasi terasa lebih nyaman. “Kinerja Anda yang akan menunjukkan prestasi Anda yang sesungguhnya,” tegas Hayu.

(Tabloid Nova/Ester Sondang) kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..