Jika Suami Tak Setuju Anda Berinvestasi

Menabung saja tidak akan cukup untuk menyiapkan masa depan. Anda harus mulai berinvestasi, demikian saran dari banyak perencana keuangan. Masalahnya, belum semua orang tergolong investment-minded alias melek investasi. Sehingga ketika Anda ingin mulai berinvestasi, suami tidak setuju karena mengkhawatirkan kerugian.

Bagaimana perbedaan pendapat ini terjadi pada Anda?

Menurut Laurie Puhn, pengacara dan pakar hubungan dari New York City, perbedaan ini termasuk masalah yang penting. Ketika salah satu dari Anda berpikir bahwa ada keuntungan yang bisa diraih dengan berinvestasi, sedangkan yang lain tidak bersedia kehilangan satu sen pun dari uangnya akibat kerugian yang mungkin terjadi, Anda tak akan pernah mencapai tujuan investasi Anda. Karena dalam investasi yang dibutuhkan adalah suatu teamwork.

Anda perlu membicarakan hal ini ketika tiba waktunya bagi Anda berdua untuk berdialog mengenai keuangan, dan kebutuhan-kebutuhan jangka panjang. Misalnya, sekolah anak.

“Belajarlah untuk memahami topik tentang investasi,” ujar Puhn, yang juga penulis buku best-seller Fight Less, Love More. Ia menyarankan untuk membaca buku-buku tentang investasi, seperti You Can Do It! (Jonathan D. Pond), atau Smart and Simple Financial Strategies for Busy People (Jane Bryant Quinn).

Dengan banyak membaca buku-buku atau artikel investasi, Anda akan mengerti bahwa memahami tingkat toleransi Anda pada risiko -entah itu tinggi atau rendah- penting agar upaya investasi Anda berhasil. Saat mulai membaca topik-topik investasi, sudut pandang Anda pun perlahan akan berubah. Jika sebelumnya Anda selalu bicara “Aku takut kita kehilangan semua uang kita!”, maka Anda akan lebih mengenal istilah “toleransi atas risiko”.

Masih belum yakin untuk mengangkat topik ini saat berbincang dengan pasangan?

Jika Anda lah yang tidak sanggup membayangkan risiko-risiko investasi, sampaikan pada suami bahwa Anda tidak nyaman dengan portofolio yang agresif. Sedangkan bila Anda yang tergerak untuk berinvestasi, tak usah terlalu menggebu-gebu. Hal ini hanya akan membuat suami merasa khawatir.

Coba katakan, “Aku kira kita kehilangan peluang yang hebat karena kita terlalu konservatif”, agar suami terdorong untuk belajar membuka diri. Jika tidak, “Anda berdua harus bersiap untuk menemukan jalan tengahnya demi kelanjutan hubungan Anda, kalau bukan demi portofolio Anda,” papar Puhn.

Bagaimana pun juga, menurutnya, hari gini siapa sih yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi? Pendek kata, Anda harus mencari informasi sebanyak-banyaknya, entah itu melalui buku-buku, seminar, diskusi dengan teman yang sudah berpengalaman investasi, atau menyewa perencana keuangan. Lakukan hal ini berdua dengan suami untuk membuka pikiran masing-masing, dan membuat keputusan selanjutnya bersama-sama.

Sumber: Real Simple, kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..