Tips Bijak Membuat Keputusan Keuangan

Tips Bijak Membuat Keputusan Keuangan. Setiap orang pasti pernah membuat keputusan keuangan, bahkan sejak seseorang mulai mengenal uang. Seorang anak yang diberikan uang jajan, misalnya, sudah diberi kebebasan untuk membeli makanan yang disukai atau untuk ditabung. Jadi, keputusan keuangan tidak terkait dengan usia seseorang. Yang menjadi masalah adalah apakah keputusan keuangan itu tepat, bijaksana, dan memberi manfaat atau tidak kepada si pemutus.

Masih banyak kalangan yang membuat keputusan keuangan bukan berdasarkan pertimbangan rasional, melainkan didorong oleh impuls atau sekadar emosional belaka. Ada juga keputusan keuangan yang tidak datang dari diri sendiri, namun karena dorongan lingkungan, entah itu keluarga ataupun teman. Apakah itu salah? Tidak selalu salah. Asalkan keputusan tersebut sejalan dengan rasionalitas. Tetapi dalam praktiknya, keputusan keuangan semata berdasarkan emosional biasanya berakhir dengan penyesalan.

Tujuan keuangan
Ada beberapa faktor yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum membuat keputusan. Pertama, keputusan harus menjadi bagian dari upaya mencapai tujuan keuangan. Yang paling sederhana, misalnya, keputusan untuk makan di restoran. Makan merupakan bagian dari kebutuhan konsumtif. Dalam perencanaan keuangan, tentu ada alokasi berapa besar dari penghasilan Anda untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Nah, ketika Anda memutuskan untuk makan di sebuah restoran mewah, harus dipastikan bahwa tindakan tersebut tidak merusak alokasi anggaran yang telah disiapkan.

Memang makan di restoran mewah mungkin sepele. Bagi sebagian kalangan, jumlahnya tidak seberapa. Akan tetapi, jika hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang, tanpa ada alokasi anggaran, pada gilirannya pasti akan mengganggu kondisi keuangan secara menyeluruh. Apalagi jika perilaku semacam itu dilakukan dengan menggunakan kartu kredit. Jumlah pengeluaran baru akan diketahui tatkala tagihan kartu kredit tiba.

Contoh yang lebih ekstrem adalah ketika ”lapar mata” untuk memiliki barang-barang bermerek. Katakanlah Anda sedang jalan-jalan ke mal bersama teman-teman. Lalu mampir ke sebuah butik yang tengah melakukan penjualan promosi atau sale. Besar kemungkinan Anda akan tergiur untuk membeli. Apalagi kalau promosinya sampai 50 persen.

Memang kelihatannya besar, tetapi harga orisinal dari barang-barang itu sebenarnya sudah mahal. Sebut saja tas bermerek. Harganya ada yang puluhan juta. Namun, karena diskon 50 persen Anda menjadi terpancing dan turut membeli, dengan berbagai alasan, termasuk ingin memiliki barang bermerek karena gengsi. Yang terjadi kemudian adalah penyesalan. Sebab, sebenarnya Anda tidak membutuhkan tas bermerek tersebut dan lebih dari itu, tidak masuk dalam perencanaan keuangan Anda. Anda mengambil keputusan keuangan semata-mata berdasarkan emosional.

Dampak Kedua, keputusan keuangan mesti melihat dampak jangka pendek, menengah, atau panjang. Umpamakan Anda belum memiliki rumah dan masih tinggal di rumah kontrakan. Di sisi lain, sewa rumah kontrakan itu cukup besar. Maka bisa muncul pertanyaan, apakah akan terus mengontrak, sembari menunggu kenaikan pendapatan dan suatu ketika mampu membeli rumah, atau saat ini juga Anda berencana membeli rumah dengan pinjaman bank.

Pilihan terhadap mengontrak atau membeli rumah jelas akan memberi dampak yang bersifat jangka panjang. Artinya, kalau Anda membeli rumah, salah satu tujuan keuangan Anda akan segera tercapai. Namun, di sisi lain, Anda juga akan menanggung utang berupa kredit kepemilikan rumah yang juga bersifat jangka panjang.

Lantas, mana yang lebih baik? Sederhana saja. Kalau Anda tetap mengontrak rumah, Anda tidak memiliki utang, tetapi juga tidak memiliki rumah. Sementara di sisi lain, sebagian penghasilan Anda akan tergerus untuk membayar biaya sewa atau kontrak rumah. Adapun kalau Anda membeli rumah, Anda tidak perlu membayar biaya sewa lagi, tetapi pengeluaran Anda akan teralokasi untuk membayar angsuran kredit. Pengeluaran di satu sisi memiliki aset di sisi lain. Jelas ini merupakan pilihan yang lebih baik.

Latar belakang
Ketiga, keputusan keuangan harus memiliki latar belakang. Setiap keputusan keuangan sebaiknya didasari oleh latar yang bisa dipertanggungjawabkan rasionalitasnya. Jadi, tidak ada sepeser pun pengeluaran Anda yang bersifat ”suka-suka”.

Kalaupun Anda ingin ada pengeluaran yang bersifat tidak terduga, sejak awal harus ada alokasi untuk pengeluaran tersebut. Misalnya, 10 persen dari penghasilan Anda memang diperuntukkan bagi kegiatan yang sekadar jadi cost. Apakah itu bagi-bagi uang bagi orang-orang yang menurut Anda pantas dibagi, atau untuk kegiatan yang bersifat hobi. Namun, total alokasi untuk hal-hal seperti itu, seperti diuraikan di atas, tidak boleh melebihi 10 persen. Kecuali, Anda ingin menuai masalah keuangan di kemudian hari. Silakan saja.

Kesimpulannya, keputusan keuangan sebenarnya merupakan salah satu elemen penting dalam memastikan apakah Anda akan berhasil atau gagal dalam mengelola keuangan dan pada gilirannya mencapai tujuan keuangan. Keputusan yang bersifat reaktif atau tanpa perencanaan lazimnya akan lebih banyak memberikan dampak negatif.

Jika perilaku Anda tergolong reaktif, impulsif, dan mudah dipengaruhi pihak lain, tidak ada salahnya untuk mulai memperbaikinya, kalau memang menginginkan hidup Anda, dalam konteks keuangan, tidak mengalami masalah.

(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)

Sumber: Kompas Cetak, kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..