Untung – Rugi Simpan Uang di Tabungan

Bijak – Tabungan menjadi salah satu alternatif masyarakat menyimpan uang. Sebagian kalangan menilai, menyimpan uang di tabungan memberikan keamanan dibanding ditaruh di bawah bantal, sebagian lagi menganggap menaruh uang di bank sama saja menghilangkan uang secara perlahan.

Analis Perbankan OSO Securities Supriyadi memberikan pandangan soal plus minus menyimpan uang di tabungan. Apa saja?

Menaruh uang di tabungan dilakukan untuk memenuhi jangka pendek seperti bertransaksi untuk belanja di mal dan tarik tunai di ATM.

“Saving kebutuhan jangka pendek biasanya untuk transaksi, perputaran lebih cepat. Tabungan untuk kebutuhan mendadak yang memang sangat penting, belanja debet di mal, tarik tunai ATM”

Selain memudahkan transaksi, menyimpan uang juga dinilai lebih aman dibandingkan menyimpan di bawah bantal, lemari, atau tempat konvensional lainnya.

Selain itu, uang di tabungan lebih likuid dan bisa diambil kapan saja dibanding ditaruh di instrumen lainnya.

“Yang ditekankan OJK masyarakat harus bisa menjangkau sektor keuangan, jangan sampai taruh uang di bawah bantal, kalau kebakaran kan risiko tinggi uang hangus. Ini untuk keamanan, kemudahan, transaksi. Keuntungan tabungan likuid jadi bisa dicairkan kapan saja,” ujarnya.

Namun begitu, keamanan dan kemudahan tersebut ada risikonya yaitu biaya administrasi yang harus dibayar setiap bulan, rata-rata Rp 15.000.

Biaya admin lebih besar dari return. Misal salah satu bank milik negara memberi bunga tabungan setahun di bawah 2%. Sedangkan biaya admin rata-rata Rp 15.000 sebulan. Begitu juga halnya di bank swasta.

“Untuk itu semua perbankan sebagai fasilitator nggak mungkin memberi gratis, harus ada yang dibayar. OJK nge-push masyarakat agar punya tabungan,” kata Supriyadi.

Selain ada potongan biaya administrasi bulanan, Supriyadi menyebutkan, bunga tabungan yang diberikan sangat minim, rata-rata 2-3% per tahun. Ini jauh di bawah angka inflasi yang rata-rata 6% per tahun.

“Bunga tabungan rata-rata 2-3% setahun, itu suku bunga nominal, belum terkena inflasi, inflasi rata-rata 6% per tahun, jadi sebenarnya nominalnya tetap minus. Tapi masyarakat tidak menyadarinya,” jelas dia.

Supriyadi menambahkan, uang yang mengendap di tabungan bahkan bisa terkikis habis manakala nominal tidak terus ditambah.

“Misal uang Rp 100.000 di tabungan itu ada yang bisa ditarik sampai Rp 0. Tapi meskipun sudah Rp 0 selama account belum ditutup maka akan tetap kena administrasi. Jadi misal setelah 3 bulan kosong terus diisi lagi, maka saldo yang masuk akan otomatis kena biaya admin selama 3 bulan itu. Di tabungan kalau nggak ditambah terus lama-lama habis,” pungkasnya.

sumber: detik.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..