Ardistia, Perancang Muda Indonesia Yang Berkibar di New York

Mendapat gelar master di Industrial and Manufacturing Northeastern University, Amerika Serikat, tak membuat Ardistia Dwiasri berkarir di bidang tersebut. Ia malah mengembangkan minatnya di dunia fashion.

Bermula dari hobi membuat sketsa, Ardistia wujudkan obsesinya. Ia seriusi hobi itu dengan mengambil pendidikan fashion design di Parson the New School for Design, New York.

“Setelah lulus master aku ketemu teman yang masuk Parson. Aku tertarik untuk ikut, dan akhirnya ambil program fashion design,” katanya saat berbincang dengan VIVAnews, pekan lalu.

Bisa dibilang ‘banting setir’. Tapi, yang dilakukan perempuan berambut pendek ini menjadi sebuah keputusan tepat. Ia buktikan keberhasilannya dengan membangun line busana siap pakai di salah satu kota mode dunia, New York.

Dengan label ‘Ardistia New York’, karyanya dipasarkan di berbagai negara, seperti Kanada, Timur Tengah dan Eropa. Sukses menembus negara-negara maju, ia melebarkan sayap ke kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang, Hongkong, Australia, juga Indonesia.

Line busana siap pakainya memang belum banyak dikenal di negaranya sendiri. Apalagi, sejak memperkenalkan koleksi pertama pada 2007, ia baru sekali menggelar pagelaran busana di Jakarta, 14 Juli 2011 lalu: Signature Collection 2011-2012 bertema ‘Relaxed and Elegance’.

“Memang saya ingin mengembangkan label untuk pasar internasional dan memulainya di New York. Pagelaran busana itu merupakan bagian dari pengembangan untuk jaringan Asia Pasifik,” kata wanita yang sangat suka berenang ini.

Sebelum akhirnya membuat line sendiri, Ardistia sempat magang di rumah mode Diane von Furstenberg, freelancer di Gap dan Ann Taylor. Ia juga pernah bekerja menjadi technical designer di Tommy Hilfiger.

“Pastinya banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Mulai dari perencanaan, pemilihan warna, ukuran, fitting, technical design, bagaimana satu departemen berhubungan dengan departemen lainnya, dan ini jadi modal saya,” katanya.

Kesempatan tersebut didapatkannya setelah mengirimkan sekitar 300-an resume ke berbagai rumah mode serta brand ternama. Menurutnya untuk bisa magang atau bekerja di rumah mode atau brand ternama cukup mudah. Ia pun membagi trik pada para desainer muda yang ingin ‘mencuri’ ilmu di butik-butik ternama di New York.

“Jangan menunggu ada posisi atau pengumuman ada lowongan. Kirimkan saja resume atau aplikasi untuk bisa magang bisa melalui fax atau e-mail. Mereka cukup welcome, kita memang harus lebih aktif. Konfirmasi saja pada pihak mereka melalui telepon,” katanya.

Modal pengalaman dan pendidikan saat itu telah didapatkannya. Tetapi ia tak puas sampai di situ. Ardistia ingin mengembangkan bisnis busananya secara profesional, bukan hanya sekedar mengandalkan kekuatan desain.

“Saya mulai mencari-cari buku fashion. Memang cukup banyak dan menarik. Tetapi jarang sekali yang membahas bagaimana cara memulai bisnis fashion. Akhirnya saya riset sendiri sambil bekerja dan mulai membuat bussiness plan,” kata Ardistia.

Perencanaan bisnis dibuatnya selama hampir delapan bulan. Dengan modal dari beberapa teman dan keluarga akhirnya Ardistia membuat line-nya sendiri, yang koleksi pertamanya berupa mantel dan coat untuk edisi fall/winter 2007.

“Dari situ aku mulai sering ikut trade show, responsnya bagus sekali. Banyak yang tertarik. Untuk promosi, beberapa kali juga terlibat dalam fashion week di New York,” ujarnya.

Teman-temannya juga jadi ‘media promosi’ mulut ke mulut yang efektif. Sehingga, ia makin mendapatkan banyak pelanggan. Mereka bukan hanya bisa mendapatkan rancangan Ardistia di butiknya yang beralamat di 280 Park Avenue S Suite 9E, New York, tetapi juga beberapa toko-toko busana terkemuka.

Baginya menjadi seorang perancang busana adalah sebuah tantangan yang menyenangkan. Ia mengaku jatuh cinta pada profesi ini. “Dalam profesi ini, kita dituntut untuk selalu berinovasi, menciptakan sesuatu yang baru, segar dan bisa membantu banyak orang,” katanya. (pie)

sumber: VIVAnews

Menjual dan Menyewakan Media Display

..