Dini Makmun, CEO di Usia 38 Tahun

Tak jarang, minat menjadi modal yang lebih penting dibandingkan latar belakang pendidikan dalam berkarier. Dini Makmun (42) membuktikan hal tersebut.

Dini menjadi Chief Executive Officer Saatchi & Saatchi Indonesia pada usia 38 tahun, hanya setahun setelah dia diterima untuk posisi Chief Operating Officer. Sebagai gambaran, Saatchi & Saatchi adalah salah satu agensi iklan internasional ternama yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. Perusahaan yang awalnya didirikan di Inggris ini mempunyai 140 perwakilan di 80 negara, termasuk Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Dini, Saatchi & Saatchi Indonesia beberapa kali meraih penghargaan, termasuk di ajang Cannes Lions International Festival of Creativity 2010. Namun, tahukah Anda kalau prestasi yang dicapai Dini ”hanya” bermodalkan kursus tentang periklanan secara umum selama enam bulan?

Pendidikan formal yang ditempuh Dini pun tak berhubungan dengan dunia iklan. Kuliah yang akhirnya berhasil dia selesaikan di Singapura ”hanya” diploma tiga tentang management support.

”Tetapi saya tidak malu. Saya percaya bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Prinsip saya adalah kenali diri sendiri dan selalu punya rasa ingin tahu,” kata Dini saat ditemui di tempat tinggalnya yang asri di kawasan Kemang, Jakarta, Rabu (20/7/2011) lalu.

Sambil sesekali bercanda dengan kedua anaknya, Aydan (3) dan Alessi (11 bulan), perempuan ramah ini kemudian bercerita tentang perjalanan kariernya. Meski periklanan telah membuatnya benar-benar jatuh cinta, proses pencariannya ternyata membutuhkan waktu sangat panjang dan berliku.

Dini pernah memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Teknik Sipil Universitas Trisakti pada semester lima karena merasa tidak cocok dengan bidang tersebut. Pilihan untuk kuliah di teknik sipil ini dijalani setelah cita-citanya kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kandas. ”Biasa, waktu kecil kalau ditanya mau jadi apa, pasti banyak yang bilang ingin jadi dokter, termasuk saya,” katanya.

Setelah berhenti kuliah, Dini mencoba bekerja di perusahaan trading. Namun, lagi-lagi tak betah. Hanya lima bulan dia bekerja.

Tak pelak, keputusan ini membuat orangtua Dini marah. Adu argumen pun terjadi. ”Mereka bingung dan bilang, sebenarnya saya ini mau jadi apa sih, ha-ha-ha. Tetapi saya punya prinsip, lebih baik saya salah di depan tapi di akhir bisa menemukan sesuatu yang membuat saya sukses. Saya tidak ingin pada akhirnya saya menyusahkan orangtua,” ujar Dini.

Karena pengalaman itu pula, saat ini Dini mulai memberi stimulus pada Aydan untuk menemukan dunia yang diminati dengan mengikutsertakannya kursus melukis. ”Saya tidak bermaksud mengarahkan dia menyukai seni. Saya baru mulai memberi pilihan, bidang apa yang nantinya akan dia pilih. Toh, Aydan juga suka sepak bola. Kalau ada klub sepak bola untuk anak seusia dia, mungkin akan saya daftarkan juga,” tuturnya.

Sebenarnya Dini tahu betul bahwa dia tak menyukai berada di dalam lingkungan yang formal dan kaku. Namun, dia kesulitan menemukan habitat yang pas dengan keinginannya.

Dini pun akhirnya mengajukan tawaran terakhir pada orangtua, meminta dikuliahkan di Singapura dan berjanji menyelesaikannya. Janji ini dipenuhi. Dini menyelesaikan diploma tiga tentang management support di Advance Training Technique dan kembali ke Indonesia tahun 1992.

Kisah pencarian Dini berlanjut ketika dia bekerja di Bank Sumitomo Niaga. ”Awalnya merasa gaya. Bekerja di kawasan Sudirman, pakai blazer. Tipikal wanita karier banget. Tetapi, lagi-lagi, saya merasa ada yang kurang,” katanya.

Model dan iklan
Perkenalan dengan dunia iklan akhirnya terjadi di tahun 1994 ketika Dini diminta menjadi model iklan sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu dia melihat sebuah tim yang selalu berdiskusi, terutama tentang artistik dan berinteraksi secara kasual, yang belakangan diketahui kalau tim tersebut berasal dari agensi iklan. ”Kayaknya seru,” kata Dini.

Ketertarikan dengan iklan kemudian direalisasikan dengan mengikuti kursus malam hari selama enam bulan yang diselenggarakan Persatuan Perusahaan Periklanan (P3I). Dini bahkan rela dipotong gaji karena sering meminta izin pulang lebih cepat untuk mengikuti kursus.

Tamat mengikuti kursus yang bermaterikan dunia iklan secara umum, perjalanan karier Dini di dunia kreatif ini dimulai dengan menjadi account executive (AE) Perwanal DMB & B, tentunya setelah mengundurkan diri dari bank. Dini pun jatuh cinta pada dunia iklan.

”Sejak saat itu, saya bisa bilang ’akhirnya, saya bisa menemukan dunia saya’. Bagi saya, perjalanan panjang ini menjadi bagian dari proses pencarian diri,” kata Dini yang tak hanya menemukan habitatnya, tetapi juga pasangan hidup di dunia iklan.

Setelah meniti karier di Perwanal hingga tahun 2000, Dini sempat berhenti bekerja selama dua tahun karena diboyong sang suami ke Singapura. Baru pada saat kembali ke Indonesia di tahun 2004, kariernya melejit. Dimulai dengan menjadi client service director di agensi iklan asal Amerika Serikat, JWT, lalu bergabung dengan Saatchi & Saatchi Indonesia pada tahun 2006.

Berada di dunia yang regenerasinya begitu cepat, Dini pun dituntut beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk dalam bidang teknologi. ”Saya harus selalu memperluas wawasan yang juga berguna untuk selalu memunculkan imajinasi. Karena selain kemampuan dan perilaku yang baik, daya imajinasi sangat dibutuhkan dalam dunia iklan. Begitu pula dengan kemampuan mendekatkan diri dengan konsumen,” katanya.

Karena, lanjutnya, kualitas iklan tak hanya bergantung pada sisi artistik dan visual, tetapi juga kedekatan emosi dengan konsumen.

(Yulia Sapthiani), kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..