Gina Drosos, Si Tomboi Ratu Bisnis Kecantikan

SEBAGAI Presiden Group di Procter & Gamble (P&G) Global Beauty, Gina Drosos menjual produk kecantikan senilai US$20 miliar dalam setahun. Tapi, jangan buru-buru membayangkan sosok perempuan yang girly dan feminin.

”Saya benar-benar tomboi,” ujar Drosos seperti dikutip situs fortunemagazine.com. Tumbuh besar di Atlanta bersama seorang saudara lelaki dan lingkungan yang dipenuhi anak-anak lelaki, bos bisnis kecantikan ini dulunya adalah seorang bintang basket. Dia bermain bersama tim perempuan di Ridgeview High School, yang menamainya MVP.

Drosos memulai kariernya di P&G sebagai karyawan magang pada musim panas 24 tahun silam, sebagai tenaga pemasaran produk pembersih lantai Spic ‘n Span. Lewat perjalanan panjang dan kerja keras, dia berhasil menduduki kursi presiden grup divisi Global Beauty P&G.

Menyongsong perubahan
Di antara daftar panjang kesuksesan yang berhasil diraihnya, salah satu prestasi penting adalah ketika Drosos berhasil mengubah Olay menjadi merek senilai US$2 miliar di seluruh dunia. Dia sendiri rela menjadi kelinci percobaan untuk menguji coba setiap prototipe krim wajah Olay Total Effects. Di usia 39 tahun, Drosos telah mengemban tanggung jawab untuk mengembangkan bisnis perawatan kulit P&G.

Drosos menggunakan Olay sebagai salah satu contoh situasi ketika perubahan bisa menghasilkan sesuatu yang mengagumkan. Ketika dia pertama kali bekerja di P&G, kategori pelembap wajah itu berada dalam kondisi stagnan.

Penelitian demi penelitian yang dilakukan oleh tim mereknya kemudian menemukan kebutuhan konsumen untuk memperbaiki garis-garis halus dan kerutan. Penemuan ini segera menggeser pemikiran tentang segala pemosisian merek.

Alih-alih menyasar kaum remaja seperti sebelumnya, tim merek mulai membidik perempuan yang lebih tua. Mereka menantang para ilmuwan perusahaan untuk menjadi inovatif sehingga pada akhirnya berhasil menciptakan sebuah produk baru dengan manfaat lebih signifikan. Hasilnya, kategori perawatan kulit itu mencapai peningkatan penjualan sebesar tiga kali lipat.

Drosos juga menyebutkan, perspektifnya tentang manajemen senior telah berubah sepanjang perjalanan karier. Pertama, dia belajar bahwa adalah keliru untuk mengansumsikan bahwa manajer senior dapat melakukan segala sesuatu dengan cemerlang. Baginya, penting untuk bekerja keras dalam waktu terbatas kemudian mundur dan beristirahat.

Kedua, tidak ada yang namanya keseimbangan dalam kehidupan kerja dan personal. Keseimbangan itu, ujarnya, tidak pernah 50-50 sehingga setiap orang perlu memilih waktu untuk memfokuskan diri terhadap satu atau yang lain.

Drosos juga beranggapan, adalah sebuah kesalahan untuk berpikir bahwa mentoring hanya berlangsung dari atas ke bawah. Kadang, beberapa ide terbaik datang dari arah berlawanan.

sumber: mediaindonesia.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..