Inilah Kisah Sukses Pemburu Harta Karun di Sungai Musi

SUKSES Bana (38) mengubah hidup dari buruh bangunan biasa menjadi orang kaya menginspirasi warga Lorong Gumarang mengikut jejaknya. Tidak hanya orang dewasa, anak remaja juga tertarik ikut menyelam meski tidak ada kemampuan.

Ibrahim (40), Ketua RT 16 Rw 01 menuturkan, tidak semua penyelam di kampung itu bersedia menularkan ilmunya pada orang lain secara sukarela. Akibatnya, keluarga Ibrahim pernah dibuat panik saat salah seorang keponakannya tertarik mencari benda berharga di Sungai Musi.

“Orang tuanya kurang setuju. Tapi, keponakan saya nekat belajar tanpa didampingi penyelam mahir,” kata Ibrahim di lokasi pencarian benda-benda berharga di Sungai Musi pekan lalu.

Yang dilakukannya memang nekat. Keponakan Ibrahim itu naik ke perahu dan memasang perlengkapan menyelam, seperti alat bantu pernapasan dari kompresor yang terhubung lewat selang. Agar tubuhnya tenggelam sampai ke dasar sungai, ia mengikatkan besi pemberat di pinggang.

Penyelam ahli tak lagi menggunakan besi ini karena mampu mengatasi derasnya arus di bawah sungai di kedalaman sampai 15 meter. Nahas bagi keponakan Ibrahim, ia lupa mengikatkan tali yang bakal membantunya naik ke permukaan setiap saat sesuai dengan kedalaman sungai.

“Dia menyelam dan mengalami masalah. Tali itu ditarik tapi mengulur terus ke bagian ujung. Keponakan saya sampai pingsa. Telinganya keluar darah. Untung masih selamat,” ujar Ibrahim.

Eksistensi para penyelam dari Kampung Gumarang dimulai tujuh tahun lalu. Waktu itu jumlah mereka sedikit dan lebih fokus mencari balok kayu, seperti tembesu yang satu kubiknya dapat dijual ratusan ribu. Mereka menyelam dari kawasan 35 Ilir sampai Pulau Kemaro, dan hanya dalam waktu dua tahun tak tersisa kayu di dasar sungai.

Sama seperti kayu, pada awalnya banyak besi bekas kemudian menipis pula. Wilayah pencarian lebih sempit dari 30 Ilir sampai Boombaru di sisi Seberang Ilir. Sisi Seberang Ulu jarang diselami karena perahu labuh jangkar menggangu lalulintas perahu ketek.

Yanto, salah seorang penyelam, mengatakan, besi yang mereka peroleh kian berkurang. Jika biasanya dapat 100 kg sehari, sekarang dapat 50 kg sudah lumayan. Jika biasa bagi hasil per orang bawa pulang Rp 100 ribu, sekarang Rp 50 ribu sudah lumayan.

“Susahnya lagi timah pancing sekarang tak laku lagi. Padahal ini cukup membantu karena harganya Rp 20 ribu sekilo Kg. Koin-koin yang kami dapat masuk ke penjualan kuningan Rp 25 ribu sekilo,” katanya. Uang tambahan didapat dari penemuan kepingan emas tipis seperti seng yang ukurannya seujung kuku saja.

Menurut Yanto, kalau lagi hoki bisa terkumpul satu gram sehari tapi biasanya baru terkumpul dua sampai tiga hari. Emas ini dikumpulkan dan dijual ke pedagang perhiasan emperan seharga Rp 150 ribu – Rp 240 ribu per gram. Dalam kondisi seperti itu, wajar kalau Yanto dan rekan-rekan berharap mendapatkan benda berharga seperti arca yang menghebohkan itu.

Ketika mendengar kabar ada kapal dagang VOC yang karam abad 18 lalu, mereka semangat hendak mencari. Dalam pertemuan di Pos Polair 30 Ilir, para penyelam sempat mendesak Aryandini Novita, peneliti dari Balai Arkeologi Palembang memberikan katalog keramik untuk membedakan mana yang antik dan tidak.

“Supaya kami tahu harganya. Saya banyak dapat keramik dan masih tersimpan di rumah. Bingung mau jual kemana,” kata Hakim.

Kolektor benda antik, Mir Senen, mengatakan, ia cukup banyak mengoleksi keramik yang ditemukan penyelam dari Sungai Musi. Harganya kisaran Rp 50 ribu sampai Rp 5 juta bergantung umur dan nilai historis. “Paling mahal jenis porselen peninggalan dinasti Cina. Tapi kebanyakan yang ditemukan di Sungai Musi itu gerabah,” katanya.

Kampung Gumarang letaknya bukan di tepi Sungai Musi. Warga dari rumah hendak ke laut (sebutan untuk kawasan pinggir sungai, red) menyusuri jalan setapak dan menyeberangi Jl Pangeran Sido Ing Lautan. Siang hari kampung sepi karena penyelam tradisional turun ke sungai sejak pukul 09.00 dan baru pulang menjelang magrib. Ibu-ibu tak banyak kegiatan sepanjang hari dan anak-anak mereka asyik bermain caingkling di jalan setapak cor beton yang dicoreti kapur.

Pemukiman penduduk didominasi rumah-rumah panggung kayu yang kebanyakan sudah lapuk dimakan usia. Peneliti Balar Palembang, Retno Purwanti, mengatakan, di Sungai Musi bisa dipastikan banyak benda berharga peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya. Retno mengirimkan pesan lewat ponsel setelah membaca berita isu penemuan arca itu di media.

“Di tempat itu tahun 1994 pernah ditemukan kepala arca perunggu berlapis emas.” begitu pesan singkatnya.

sumber: kompas.com

Menjual dan Menyewakan Media Display

..